SobRydO.com
navigation
Home
About Us
Hot deal Hot Deals Products!!!
Free Merchandise
SobRydO.com Blogs
Download
Report Spam Complaints
left right
 
 
News
Apakah Anda Sudah Mempunyai Pohon Uang Yang Subur? Apakah Anda Sudah Mempunyai Pohon Uang Yang Subur? - Last Update : 3/22/2008 4:30:13 PM - Views : 1022

Sudahkah Anda Menanam Pohon Uang Yang Subur?

Di suatu hari Sabtu saya mendapatkan 2 kejadian yang ingin saya bagikan kepada anda. Yang pertama adalah ketika saya harus menggandakan materi training di suatu tempat fotocopy yang tidak jauh dari rumah saya. Karena jumlah yang akan dicopy begitu banyak, saya menitipkan materi tersebut jam 11.00 siang dan mengambil kembali jam 18.00. Namun karena materi belum selesai, saya diminta balik kembali jam 19.00. (Jam 19.00 merupakan waktu dimana toko ini akan tutup). Ketika saya kembali lagi, memang materi telah siap.

Ketika dihitung, ternyata yang harus dibaya lebih dari Rp 1 juta. Uang yang saya bawa kurang sedikit sehingga saya segera menelpon ke rumah untuk dibawakan tambahan uang. Sambil menunggu uang tambahan datang, para karyawan bersiap-siap untuk tutup. Pada saat itu datanglah seorang wanita yang tampaknya sangat butuh untuk fotocopy, tetapi langsung ditolak oleh para karyawan dengan alasan akan tutup dan mesin telah mati. Pada saat itu, si pemilik juga ada di tempat tersebut dan tidak melakukan tindakan apapun. Wanita tersebut masih berusaha membujuk tetapi kembali ditolak, apalagi yang mau dicopy hanya 1 lembar. Sehabis melayani saya yang lebih dari 1 juta, 1 lembar menjadi tidak berarti, mungkin itu yang terjadi di benak pemilik maupun karyawan fotocopy tersebut.

Kasus yang kedua terjadi setelah saya selesai fotocopy dan memutuskan untuk mengajak keluarga saya untuk santap malam di suatu restoran pizza. Ketika datang, waktu sudah menunjukkan pukul 19.30 dan saya melihat di kaca restoran tertulis bahwa mereka akan tutup jam 20.00. Saya bertanya, apakah masih bisa memesan dan dijawab masih bisa. Saya tanya lagi, apakah saya akan diburu-buru karena jam 20.00 harus tutup dan dijawab untuk tetap santai saja, karena mereka akan menunggu.

Karyawan yang melayani mengatakan bahwa saya sekeluarga mungkin merupakan tamu terakhir karena setelah ini mereka akan menutup order. 10 menit setelah kami memesan, saya melihat ada keluarga lain yang masuk tetapi rupanya mereka ingin pesan untuk dibawa pulang dan ternyata masih juga dilayani oleh para karyawan. Tidak lama kemudian masuk lagi sebuah keluarga dan juga ternyata mau pesan untuk dibawa pulang. Lagi-lagi para karyawan tersebut melayani tamu tersebut. Dalam hati saya berpikir, beda sekali perlakuan karyawan toko fotocopy dan restoran pizza ini. Padahal di tempat fotocopy ada pemiliknya, sedangkan di restoran ini semuanya adalah karyawan saja.

Jika anda melihat 2 kasus di atas, sekilas mungkin anda melihat bahwa ini adalah sekedar kasus pelayanan kepada pelanggan, bagaimana membuat pelanggan puas. Namun yang akan saya kemukakan disini adalah yang dinamakan Customer Life Time Value (CLTV). CLTV ini adalah berapa banyak RUPIAH yang diberikan oleh seorang customer kepada bisnis anda, selama ia menjadi customer Anda. CLTV ini ibarat pohon uang bagi bisnis anda. Contoh : di tempat fotocopy, saya menghabiskan uang Rp. 1juta dan tidak berhenti saat itu saja. Masih akan ada banyak lagi RUPIAH yang akan saya setorkan kepada toko tersebut selama saya menjadi pelanggannya karena puas (atau terpaksa karena tidak ada alternatif lain). Demikian juga di restoran Pizza, malam itu saya menyetorkan Rp. 120 ribu kepada mereka dan tidak akan berhenti saat itu. Masih akan ada saat-saat lain dimana saya akan menyetorkan RUPIAH lain ke restoran Pizza tersebut selama saya menjadi pelanggannya karena puas (atau terpaksa karena tidak ada pilihan lain).

CLTV inilah yang sering tidak dimengerti atau dilihat oleh para pebisnis. Contohnya adalah si pemilik fotocopy. Wanita yang ia tolak mungkin malam itu hanya akan menyetor sedikit Rupiah (hanya 1 lembar fotocopy). Tetapi jika ia puas, maka masih akan ada hari-hari lain dimana wanita tersebut akan menyetor RUPIAH kepada si pemilik fotocopy. Dengan tindakan menolak tersebut, akan membuat si wanita kecewa (bahkan mungkin sakit hati) dan mengalihkan RUPIAHnya kepada toko lain. Apalagi hanya sekitar 20 meter dari toko tersebut ada toko fotocopy lain. Disinilah terlihat bahwa CLTV tidak dimengerti dan tidak dijalankan oleh si pemilik.

Bagaimana dengan Anda sebagai pemilik bisnis? Apakah anda telah menjalankan CLTV? Ketika anda melihat seorang pelanggan, apakah anda hanya melihat uang yang ia keluarkan saat itu saja ataukah anda melihat pohon uang di balik matanya? Semakin banyak pelanggan yang puas, semakin banyak pohon uang yang subur anda tanam di kebun anda.


Source : http://www.omzetter.com

Recent Visitor Also Read This
Tersedak Saat Ikut Lomba Makan, Pria Ini Koma dan Jadi Lumpuh- Views : 1055
Sony Pictures leads studios with four Golden Globes film wins- Views : 1241
Mengenal Teknik Pemrograman Pikiran ala Candie Willy- Views : 1234
Pembibitan Alpukat- Views : 1377
Batu Serpentine- Views : 4781


Share on Facebook
e-mail GoogleBookmark ShareLinkedin SharesDelicious Sharestumbleupon
PanahNewsBerita Populer Lainnya